Total Tayangan Halaman

Kamis, 19 November 2015

Avara ( Karya D’de Cha'cha )

“Aku lulus, aku lulus. Horeee”.

            Teriakan girang Avara disambut tepuk tangan riuh sahabat – sahabatnya. Bagaimana tidak. Nama Avara ada dinomor urut 1, sebagai mahasiswa dengan nilai tertinggi di semester 6 jurusan PG PAUD Fakultas Keguruan & Imu Pendidikan.

            Satu per satu sahabat – sahabat Avara memberikan selamat kepada gadis manis berkulit kuning langsat ini.

            “Selamat ya, Vara”, Charina memeluk Avara yang merupakan sahabatnya sejak balita.

            “Makasih, Rin”, Avara membalas erat pelukan Charina. “Eh, Rin. Aku harus cepat – cepat pulang. Mau kasih kabar kalau aku lulus ke Mas Bayu.”.

            “Oke. Tapi ingat traktirannya ya”, Charina tertawa lebar.

            “Sip deh. Habis yudisium ya. Bye bye”, Avara langsung berlari – lari kecil kepelataran parkir. Dia segera memacu sepeda motornya pulang.

            Dibelokan perempatan yang menuju kampusnya Avara hampir saja ditabrak oleh pengemudi taxi yang juga nampak kaget melihat motor Avara muncul dibelokan. Avara mengerem mendadak motornya. Spontan dia berteriak “Om kalau mau belok lihat – lihat dong”.

            Pengemudi taxi tampak melambaikan tangan tanda meminta maaf dan segera melaju meninggalkan Avara yang jantungnya masih berdetak kencang akibat insiden tadi. “Nyaris saja”, pikir Avara. Dia segera melanjutkan perjalanannya pulang. Sepanjang perjalanan pulang perasaan Avara mulai tak enak. Dia pun menjalankan motornya perlahan, tidak terlalu cepat.

            Sesampainya dirumah, Avara mendapati rumahnya kosong. Ibu dan bapaknya adalah pegawai disebuah kantor BUMN yang bekerja dari pagi hingga sore. Kakaknya sendiri telah bekerja dan tinggal jauh dari rumah.

            Avara segera mengambil handphonenya dan menelpon Bayu. Begitu sambungan diujung telpon diangkat, Avara langsung berucap dengan kegirangan. “Halo Mas Bayu. Mas, Vara lulus. Nilai Vara yang paling tinggi. Mas senang ngga ?”.

            Tapi tidak disangka oleh Avara, jawaban yang didengarnya kemudian justru berbeda.

            “Belum juga saya berbicara tapi kamu sudah nyerocos seperti tidak tahu aturan. Tidak pernah diajarin ngomong sama orang tuamu ya ?”.

            Avara tersentak. Tidak biasanya Bayu seperti itu. “Ada apa, Mas ? Mas ada masalah ? Tidak biasanya Mas seperti ini sama Vara”, Vara bertanya dengan suara pelan.

            “Tidak. Saya tidak ada masalah. Eh sudah ya. Saya sibuk”, Bayu mengakhiri pembicaraan.

            “Tapi, Mas”, belum sempat Avara menyelesaikan ucapannya, telpon sudah ditutup diseberang sana.

            Avara terduduk lemas di tempat tidurnya. Niatnya untuk berbagi kebahagiaan dengan orang yang dicintainya berbalas sakit hati yang dirasakannya. Air matanya mulai bergulir ke pipinya.

Bayu adalah pacar Avara. Mereka sudah menjalin hubungan sejak 2 tahun lalu. Bayu adalah seorang TNI Angkatan Darat yang bertugas di Jakarta. Bayu dan Avara belum pernah bertemu lagi sejak mereka menjalin hubungan 2 tahun yang lalu. Mereka hanya sempat bersua dan bersama selama seminggu saat Bayu pulang cuti. Mereka pertama kali bertemu saat bersama – sama menonton pawai obor tahun baru. Merasa punya banyak kesamaan, mereka memutuskan untuk pacaran meskipun belum saling mengenal satu sama lain.

            Pada awalnya Avara sangat bahagia memiliki pacar seperti Bayu. Hampir setiap hari Bayu menelponnya. Setiap bangun tidur, pada jam istirahat kerja, sore menjelang apel dan malam sebelum tidur. Satu setengah tahun berlalu. Keadaan mulai berubah. Bayu mulai jarang menghubungi Avara. Terkadang telpon dari Avara pun sering tak dijawab. Avara yang tidak mau berburuk sangka selalu membesarkan hatinya sendiri bahwa mungkin Bayu sedang sibuk dengan tugasnya.

            Ketika telponnya dijawab dengan nada kasar oleh Bayu, Avara pun berusaha berpikiran positif bahwa mungkin Bayu sedang ada masalah dengan kedinasannya sehingga terbawa emosi ketika berbicara dengan Avara. Tak sedikitpun Avara mau berpikiran buruk tentang Bayu, tentang pria yang selama ini dicintainya sepenuh hati dari jarak jauh. Dan kali ini Avara masih tetap sama, hanya bisa menyembunyikan wajahnya dibantal sambil menangis.

*****

            Dering HPnya membangunkan Bayu dari tidur siangnya. “Avara Memanggil”. Tapi Bayu tak berniat sama sekali untuk mengangkatnya. Rama yang sekamar dengan Bayu menegurnya. “HPmu memanggil ratusan kali sejak tadi. Angkat sebentar kenapa. Itu Avara kan ?”.

            “Ya. Tapi saya malas buat angkat telponnya. Palingan juga Cuma mengingatkan makan, jaga kesehatan dan yang lainnya yang ngga mutu. Lagian kalau saya sakit, dia tidak akan bisa ada disini seperti Delia”.

            Rama tercekat mendengar perkataan Bayu. “Jadi kamu benar jadian dengan Delia ? Tidak kau pikir lagi Avara yang sudah setia hampir 2 tahun ini padamu ? Kamu tidak akan pernah lagi menemukan gadis seperti Avara. Setidaknya beri dia kepastian atas hubungan kalian”.

            “Persetan dengan Avara. Biar saja dia sadar sendiri dengan perubahan saya. Saya tidak akan memutuskan dia. Saya akan menunggu dia yang memutuskan saya”, Bayu bangkit dari tempat tidurnya dan berganti pakaian. “Saya sudah lepas piket. Sudah janji mau ngantar Delia ke toko buku. Saya keluar dulu”.

            Rama hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya melihat Bayu yang sekarang. Sejak berkenalan dengan Delia, Bayu banyak berubah. Tak hanya Avara yang diabaikan, tapi teman – temannya juga. Rama tak banyak tahu tentang Delia. Rama hanya tahu Delia adalah mahasiswi semester 4 di sebuah Fakultas Kedokteran. Ada keinginannya untuk memberi tahu Avara tentang apa yang membuat Bayu berubah. Tapi Rama takut akan membuat Avara sedih. “Sabar, Vara. Kelak Tuhan pasti punya rencana yang indah untukmu”.

*****

            Dua tahun kemudian.

            Bayu akhirnya dipindah tugaskan ke Kota M yang berjarak 80 kilometer dari desa tempat lahirnya. Setelah sibuk urus ini itu kesana kemari, sampailah Bayu di rumah dinasnya yang baru. Ketika dia merapikan pigura foto yang dibawanya, matanya terpaku pada satu foto. Ya, itu foto Avara. Avara yang dihindarinya sejak dirinya mengenal Delia. Delia yang disangkanya jauh lebih baik dan lebih cantik daripada Avara. Ternyata kebalikannya yang didapatnya. Mengetahui Bayu akan segera pindah, Delia pun memutuskan hubungannya dengan Bayu dengan alasan tidak akan bisa mengikuti Bayu berpindah – pindah dinas.

            Penyesalan menghantui relung hati Bayu. Sudah 2 tahun Avara kehilangan kontak Bayu karena Bayu sengaja mengganti nomor teleponnya. Dan untuk pertama kali Bayu merasa tak ada lagi gadis sebaik Avara. Rasa rindunya akan Avara semakin kuat. Diambilnya catatan kecil dari dompetnya yang berisi nomor HP Avara. Bayu mencoba menghubungi Avara. Namun yang terdengar hanya suara operator, “Nomor yang Anda hubungi tidak terdaftar”.

            “Mungkin Avara ganti nomor”, batin Bayu. “Mungkin dia sudah bahagia jadi guru sekarang”.

            Selama seminggu Bayu merasa gelisah. Dia berusaha mencari tahu tentang Avara, tapi usahanya tidak membuahkan hasil. Akhirnya Bayu memutuskan untuk berkunjung ke desa. Dia berharap masih akan menemui Avara disana.

*****

            Suasana desa tampak sepi ketika mobil yang dikendarai Bayu mulai memasuki desa. Tepat didepan rumah Avara, Bayu menghentikan mobilnya. Tapi rumah itu sepertinya tidak berpenghuni. Banyak sampah berserakan dimuka rumah itu. Bayu kembali menjalankan mobilnya untuk mencari orang yang mungkin bisa memberinya informasi.

            Tepat dibelokan jalan sebelah lapangan desa Bayu melihat ada seorang wanita yang mengendarai sepeda motor matic berpakaian layaknya guru. Bayu melambaikan tangannya meminta wanita tersebut berhenti.

            “Selamat siang, Dik. Saya mau tanya, Avara sekarang tinggal dimana ya ?”, tanya Bayu.

            Wanita itu mengerenyitkan dahinya. “Bapak ini siapanya Avara ?”, tanya wanita itu perlahan.

            “Saya Bayu, temannya Avara. Saya kehilangan kontak Avara. Barangkali adik tahu Avara dimana”.

            Wanita yang tidak lain adalah Charina itu terkejut. “Jadi ini Mas Bayu”, batin Charina.

            “Ya, saya tahu, Pak. Ayo singgah dulu ke rumah saya”.

            Tanpa menunggu jawaban Bayu, Charina segera menjalankan motornya. Bayu sendiri mengikutinya dari belakang sambil bertanya – tanya kenapa dirinya harus singgah dulu di rumah wanita ini.

            Sesampainya di rumah Charina, Charina meminta Bayu untuk duduk. Charina kemudian memanggil kedua orang tuanya untuk ikut duduk menemani Bayu. Bayu masih belum mengerti. Dalam benaknya dipenuhi dengan sejuta tanda tanya.

            “Mas Bayu kemana saja 2 tahun terakhir ini ? Kenapa menghilang dari Avara ?”, Charina memulai pembicaraan.

            Bayu tersentak. “Kamu kenal saya dari mana ?”.

            “Saya Charina, Mas. Teman Avara dari kecil sampai sama – sama lulus kuliah. Tapi sayang cita – cita Avara untuk menjadi guru tidak bisa terwujud”, mata Charina tampak berkaca – kaca. Charina berusaha menahan air matanya. Tampak ibu Charina mengelus pundak anaknya. Sementara ayah Charina hanya diam sambil menundukkan kepalanya.

            Bayu semakin bingung. “Saya tidak mengerti apa yang adik bilang. Bisa adik jelaskan, Avara sekarang dimana”.

            “Avara sudah meninggal enam bulan yang lalu, Mas”, Charina terisak. “Sebelum meninggal Avara selalu menanyakan Mas Bayu. Bahkan disisa tenaganya, dia masih bisa menuliskan surat untuk Mas Bayu”.

            Bayu seperti tersambar petir disiang bolong. “Adik bohong kan ? Avara dimana sekarang, Dik ?”, air mata Bayu mulai jatuh.

            Charina mengusap air matanya. “Ayo ikut saya, Mas”.

            Charina mengantarkan Bayu ke sebuah taman kecil dengan sebuah pusara ditengahnya. Itulah tempat peristirahatan terakhir Avara. Sebuah nisan cantik berhias bunga bertuliskan “Pusara Yang Tercinta Avara Putri Pertiwi”.

            Bayu tertegun. Hanya bisa berlutut sambil menangis. Bayu merasa dunianya seperti kiamat. “Avara, Avara, Avara”. Hatinya menjerit memanggil nama Avara.

            “Avara meninggal 6 bulan lalu, Mas”, Charina mulai bercerita. “Dokter memvonisnya terkena kanker nasofaring sejak setahun yang lalu. Orang tuanya sudah mengusahakan yang terbaik untuk Avara. Tapi Tuhan berkehendak lain. Keinginan Avara untuk tetap hidup juga sangat kecil. Saat sakit, dia selalu menanyakan Mas Bayu. Katanya dia takut kalau Mas Bayu kenapa – kenapa. Dia bilang dia selalu berdoa untuk kebahagiaan Mas Bayu. Setelah pusara Avara ini selesai, orang tua dan kakak Avara memutuskan pindah ke luar daerah. Makam ini dititipkan pada saya untuk dirawat. Orang tua Avara tidak sanggup terus – terusan tinggal disini. Mereka selalu sedih setiap mengingat Avara. Avara punya keinginan untuk bertemu Mas Bayu sebelum meninggal. Tapi tidak ada satu pun diantara kami yang tahu Mas Bayu dimana”, Charina bercerita panjang lebar.

            Bayu menundukkan kepalanya. Tangannya mengusap – usap pusara Avara. Tak henti – hentinya dirinya menyesali perlakuannya terhadap Avara. “Dik, saya boleh lihat surat Avara untuk saya”.

            Charina memberikan sebuah surat bersampul merah muda. “Dulu saya pikir saya akan menyimpan surat ini selamanya karena saya tidak tahu Mas Bayu dimana”.

            Sore mulai menjelang. Matahari mulai turun keperaduannya. Bayu mengantar Charina pulang.

            “Mas Bayu tidak singgah lagi ?”.

            “Tidak, Rin. Mas harus pulang sekarang. Nanti Mas akan sering berkunjung kesini. Salam buat ibu dan bapak ya”.

            “Hati – hati dijalan, Mas. Avara pasti selalu melihat Mas Bayu dari sana”.

            Bayu tersenyum pahit. Dia melambaikan tangannya.

            Sepanjang perjalanan pulang Bayu terus menangis. Dia tak bisa membayangkan betapa kejamnya dirinya terhadap Avara. Sesampainya di rumah dinasnya, Bayu segera masuk ke kamarnya dan membuka surat dari Avara.


Untuk Mas Bayu yang tersayang,,

Mas, kalau Mas membaca surat ini, mungkin Avara sudah pergi jauh.
Bukan maksud Avara untuk meninggalkan Mas.
Tapi inilah suratan takdir Avara.

Avara tahu kalau Mas tidak lagi mencintai Avara.
Avara juga mengerti kalau Mas butuh perempuan yang jauh lebih baik
daripada Avara.
Semoga Mas bisa mendapatkan semua yang Mas inginkan.
Semoga Mas dipenuhi berkat berkelimpahan.
Kalau Mas bahagia, Avara juga bahagia.

Avara berharap banyak surat ini bisa sampai ditangan Mas Bayu.

Mas jaga diri baik – baik ya.
Dunia akhirat Avara akan selalu mencintai Mas Bayu.

                                    Peluk cium
                                                Avara


            Bayu tak bisa lagi menahan perasaan sedihnya. Kini semuanya sudah hancur. Harapannya, cintanya, tak ada lagi yang tersisa. Kini yang tinggal hanyalah penyesalan yang mungkin seumur hidup tak akan pernah bisa dilupakannya. “Avara, maafkan Mas yang sudah terlalu bodoh meninggalkanmu. Avara, Avara, Avara”.

KADO CINTA SANG PRAJURIT ( Karya D’de Cha’cha )

      Senja perlahan mulai tiba. Matahari mulai turun keperaduannya. Langit senja terlihat memerah. Namun hiruk pikuk suasana di Bandar Udara Sam Ratulangi Manado masih tetap berjalan seperti saat pagi hari.

            Rasa penat dan lelah mulai menjalari sekujur tubuh Putri yang sejak siang tadi menunggu Aditya, sang kekasih yang dijadwalkan tiba hari ini. Berkali – kali dia keluar masuk mobil yang disewanya untuk menjemput Aditya. Sopir yang mengemudi mobil itu memilih berjalan – jalan disekitar bandara dan membiarkan Putri menunggu sendirian didalam mobil.

            Tiba – tiba handphone Putri berdering. “Aditya Calling”.

            “Halo, Dit. Kamu sudah dimana ? Aku  dari tadi nunggu kamu dalam mobil.”, kata Putri sedikit kesal.

            “Kamu masih sama seperti dulu, tidak sabaran”, Aditya tertawa renyah.

            “Gimana mau sabar ? Aku sudah di bandara sejak jam sebelas tadi”, Putri sedikit mengubah nada bicaranya. Hatinya merasa damai mendengar suara Aditya.

            “Aku sudah dimuka KFC. Taxinya yang mana ?”, Aditya turun perlahan kepelataran parkir.

            “Disebelah kiri nomor tiga dari depan. Biasa, mobilnya Om Bayu”.

            Putri keluar dari dalam taxi. Sedetik kemudian dia melihat sosok yang sangat dirindukannya itu berlari – lari kecil menghampirinya. Putri sangat gembira. Akhirnya dirinya bersua juga dengan Aditya setelah berpisah selama dua tahun.

            Aditya adalah seorang prajurit TNI Angkatan Darat yang ditugaskan di Yonif 754/ENK Timika, Papua. Sudah empat tahun lamanya dia ditugaskan disana. Dua tahun sekali dirinya pulang ke kampung halamannya untuk berlibur sekaligus melepas rindu kepada orang tuanya dan kekasihnya.

            Aditya kelihatan kerepotan menarik kopernya yang cukup besar sambil berlari – lari kecil. Putri tertawa geli melihatnya.

            “Senang ya lihat aku narik koper segede ini”, Aditya nampak sedikit protes.

            “Siapa yang nyuruh bawa koper segede itu ? Mau liburan atau mau pindahan ?”, sahut Putri sambil tertawa.

            “Aku punya kado ulang tahun untukmu”, Aditya tersenyum.

            “Mana ?”, wajah Putri nampak kegirangan.

            “Ulang tahunmu kan besok. Jadi besok baru bisa aku berikan. Ngomong – ngomong Om Bayu kemana ya ?”.

            “Yaaahhh. Ku kira sekarang”, Putri nampak cemberut. “Tapi ngga apa – apa deh. Tunggu sebentar. Aku telpon Om Bayu dulu”.

            “Ngga perlu ditelpon. Om sudah disini”, tiba – tiba Om Bayu muncul dari arah belakang parkiran.

            Spontan saja Aditya dan Putri kaget setengah mati.

            “Om ngintip ya dari tadi”, selidik Putri.

            “Ah, tidak kok. Cuma menanti sedikit adegan romantis pertemuan sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu. Tapi adegannya tidak kunjung ada”, Om Bayu tertawa terbahak – bahak.

            “Kita bukan anak kecil lagi, Om”, Putri tersenyum simpul.

            “Ya, Om tahu. Kalian sudah sangat dewasa”, Om Bayu menepuk pundak Aditya. “Hai Dit, tambah keren saja kamu”.

            “Om bisa saja. Kabar baik, Om. Ngomong – ngomong, pulang yuk. Ngga usah singgah – singgah lagi.  Sudah kangen masakan mama”, Aditya menatap wajah Putri. Putri mengangguk tanda menyetujui.

            “Oke. Ayo masuk. Kita pulang sekarang”, kata Om Bayu.

            Mobil Om Bayu perlahan – lahan mulai meninggalkan pelataran parkir bandara. Perjalanan untuk pulang ke kampung akan memakan waktu selama lima jam. Putri yang sejak siang sudah di bandara terlihat sangat mengantuk. Begitu mobil memasuki Kota Manado, Putri terlihat sudah tertidur.

            Aditya menoleh ke samping. Ditatapnya raut wajah Putri yang terlihat lelah. Aditya kemudian mengambil tasnya dan mengeluarkan jaketnya. Dirangkulnya Putri dan diselimutinya dengan jaket.

            “Dia wanita yang hebat. Tiap hari dia menunggu kepulanganmu tanpa tergoda sedikitpun dengan banyaknya rayuan yang datang dalam hari – harinya”, Om Bayu berkata pelan tanpa menoleh.

            “Saya tahu, Om. Tapi saya belum bisa membahagiakan dia sampai saat ini”, Aditya mengusap rambut Putri yang tertidur nyenyak.

            “Bahagia itu subjektif, Dit. Yang penting tetaplah setia pada dia”.

            “Pasti, Om”.

            Setengah jam kemudian Aditya terlihat ikut tertidur. Om Bayu mengemudi dengan hati – hati karena jalan Trans Sulawesi tergolong jalan yang ramai kendaraan meskipun pada malam hari. Om Bayu melirik kaca depannya. Dia melihat Aditya dan Putri sudah tertidur. Dalam hatinya berkata “semoga Tuhan selalu melindungi hubungan kalian”.
*****

            Jam sudah menunjuk pukul 23.00 WITA ketika mobil Om Bayu mulai memasuki Desa Werdhi Agung. Aditya mulai terbangun. Sedangkan Putri nampak masih tertidur nyenyak. Tak lama kemudian mobil perlahan – lahan memasuki pekarangan rumah Putri.

            “Sayang, bangun. Kita sudah sampai”, Aditya sedikit mengguncang bahu Putri.

            Putri membuka matanya. “Sudah sampai di rumah ya ?”, Putri mengusap matanya.

            “Iya. Ayo turun”, Aditya menuntun Putri turun dari mobil.

            Diteras rumah Putri sudah berdiri Mama dan Papanya Putri yang sengaja belum tidur untuk menunggu kepulangan Aditya. Aditya sudah seperti anak mereka sendiri.

            “Kalian berdua cepat masuk. Sudah dingin sekali udaranya. Biar Papa yang bayar ongkosnya”, kata Papa Putri.

            “Tapi, Pa. Adit ada uang kok”, Aditya mencoba menolak secara halus.

            “Sudah, tak apa, Dit. Ayo masuk”, kata Mama Putri.

            Aditya mengangguk dan menggandeng tangan Putri masuk kedalam rumah. Mama Putri segera membuatkan minuman panas.

            “Kamu mau tidur disini, Dit ?” tanya Putri.

            “Aku sudah SMS Papa minta jemput. Ngga enak kalau menginap. Nanti besok kita ketemu ditempat biasa”, Aditya mengusap rambut Putri.

            “Tapi mana hadiah ulang tahunku ?”

            “Oh ya. Aku hampir lupa”, Aditya melihat jam tangannya. 5 menit lagi menunjuk pukul 00.00 WITA.

            Aditya mengeluarkan kado berbungkus plastik pink.

            “Apa lagi yang kamu hadiahkan untuk Putri, Dit ? Sudah besar begitu jangan terlalu dimanja dengan hadiah”, Mama Putri meletakkan minuman panas dimeja tamu. “Ayo diminum dulu, Dit. Ini cokelat kesukaanmu”.

            “Mama apa’an sih ?” protes Putri. Aditya tersenyum – senyum menyaksikannya.

            Tiiittt, tiiittt, tiiiittt.

            Jam dipergelangan tangan Aditya menunjuk tepat pukul 00.00 WITA.

            Aditya memeluk Putri. “Happy Birthday, Sayang. Panjang umur, sehat selalu, tambah dewasa, ngga rewel lagi, banyak rejeki, tambah sukses pekerjaannya.”

            Putri tersenyum. “Terima kasih ya, Dit.”

            Papa dan Mama Putri pun bergantian memeluk Putri untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Tak lama kemudian Papa Aditya datang menjemput Aditya.

*****

            Pukul 08.00 WITA.

            Alarm HP Putri berkali – kali berbunyi. Tapi Putri sepertinya enggan untuk bangun dari tempat tidurnya. Dia masih merasa penat setelah perjalanan panjang kemarin. Semenit kemudian suara alarm HPnya berubah menjadi nada panggilan. Dengan malas Putri menjawab panggilannya.

            “Selamat pagi, Sayang. Sudah bangun belum ?”, suara Aditya diseberang sana.

            “Masih malas bangun, Dit. Masih cape”, jawab Putri agak malas – malasan.

            “Hari ini kan ulang tahunmu. Aku mau ngajak kamu makan ketempat biasa. Mau ? Kalau mau, aku jemput jam 9”, kata Adit.

            “Iya deh. Aku mandi dulu ya kalau begitu”.

            Putri segera mandi dan bersiap – siap. Sudah dua tahun lamanya dirinya tak makan bersama dengan Aditya. Ini momen yang paling disenanginya jika Aditya pulang.

            Tepat pukul 09.00 Aditya menjemput Putri. Setelah pamitan, mereka menuju ke tempat makan favorite mereka. Selesai makan, mereka berdua berputar – putar mengunjungi kerabat dan kawan – kawan Aditya.

            Seharian ini Putri merasa sangat senang.

            Sore beranjak turun. Mereka pun pulang. Sesampainya di rumah Putri, mereka disambut oleh Mama Putri.

            “Sudah puas jalan – jalannya ?”, Mama Putri menggoda anaknya.

            “Puas lah, Ma”, Putri menjawab sambil tertawa.

            “Aku mau memberikan hadiah yang aku janjikan kemarin”, kata Aditya.

            Putri mengerutkan keningnya. “Lho, bukannya boneka kemarin itu hadiahnya ?”.

            “Bukan”, Aditya tersenyum. “Ini hadiah ulang tahun untukmu”, Aditya menyodorkan selembar kertas putih.

            Putri membaca tulisan yang ada dikertas itu. Serasa tak percaya, dia mengulanginya kembali membaca dari atas sampai selesai. “Ini serius ?”, tanya Putri dengan mata berkaca – kaca.

            Aditya mengangguk perlahan.

            “Setahun aku berusaha agar bisa pindah. Agar kita tidak jauh lagi. Aku tahu bagaimana perasaanmu disaat aku jauh dari kamu. Makanya kemarin kamu lihat aku pulang bawa koper. Barang – barang lain menyusul dikirim. Mulai minggu depan aku sudah dinas disini. Kamu senang dengan hadiah ini ?”.

            Putri tak bisa menahan tangisnya. Dipeluknya Aditya erat – erat. “Terima kasih, Dit. Ini hadiah ulang tahun yang paling berharga dan tak akan pernah ku lupakan”.


            Mama Putri yang menyaksikannya pun terharu. Dalam hatinya berdoa agar cinta dua sejoli ini diberkati Tuhan hingga saatnya nanti.

Senin, 16 Februari 2015

Ketulusan Cinta Seorang Prajurit TNI



Seluruh penumpang di dalam bus merasa simpati melihat seorang wanita muda dengan tongkatnya meraba – raba menaiki tangga bus. Dengan tangannya yang lain dia meraba posisi di mana sopir berada, dan membayar ongkos bus. Lalu berjalan ke dalam bus mencari – cari bangku yang kosong dengan tangannya. Setelah yakin bangku yang dirabanya kosong, dia duduk. Meletakkan tasnya diatas pangkuan, dan satu tangannya masih memegang tongkat.

Satu tahun telah berlalu, Jasmine, wanita muda itu, mengalami kebutaan. Suatu kecelakaan telah terjadi atas dirinya, dan menghilangkan penglihatannya untuk selama – lamanya. Dunia tiba – tiba saja menjadi gelap dan segala harapan dan cita – citanya menjadi sirna. Jasmine adalah wanita yang penuh dengan ambisi menaklukan dunia, aktif di segala perkumpulan, baik di sekolah, rumah maupun di lingkungannya.

Tiba – tiba saja semuanya sirna, begitu kecelakaan itu dialaminya. Kegelapan, frustasi, dan rendah diri tiba-tiba saja menyelimuti jiwanya. Hilang sudah masa depan yang selama ini dicita – citakannya. Merasa tak berguna dan tak ada seorangpun yang sanggup menolongnya, selalu membisiki hatinya.

“Bagaimana ini bisa terjadi padaku?“ Jasmine menangis.

Hatinya protes, diliputi kemarahan dan putus asa. Tapi, tak peduli sebanyak apa pun dia mengeluh dan menangis, sebanyak apa pun dia protes, sebanyak apapun dia berdoa dan memohon, dia harus tahu, penglihatannya tak akan kembali. Di antara frustasi, depresi dan putus asa, dia masih beruntung, karena mempunyai suami yang begitu penyayang dan setia, Satria.

Satria adalah seorang prajurit TNI biasa yang bekerja sebagai security di sebuah perusahaan. Dia mencintai Jasmine dengan seluruh hatinya. Ketika mengetahui Jasmine kehilangan penglihatan, rasa cintanya tidak berkurang. Justru perhatiannya makin bertambah, ketika dilihatnya Jasmine tenggelam ke dalam jurang keputus – asaan . Satria ingin menolong mengembalikan rasa percaya diri Jasmine, seperti ketika Jasmine belum menjadi buta. Satria tahu, ini adalah perjuangan yang tidak gampang. Butuh extra waktu dan kesabaran yang tidak sedikit.

Karena buta, Jasmine tidak bisa terus bekerja di perusahaan tempatnya bekerja. Dia berhenti dengan terhormat. Satria mendorongnya supaya belajar huruf Braille. Dengan harapan, suatu saat bisa berguna untuk masa depan Jasmine. Tapi bagaimana Jasmine bisa belajar ? Sedangkan untuk pergi ke mana – mana saja selalu diantar oleh Satria. Dunia ini begitu gelap. Tak ada kesempatan sedikitpun untuk bisa melihat jalan. Dulu, sebelum menjadi buta, Jasmine memang biasa naik bus ke tempat kerja dan ke mana saja sendirian. Tapi kini, ketika buta, apa sanggup dia naik bus sendirian ? Berjalan sendirian ? Pulang – pergi sendirian ? Siapa yang akan melindunginya ketika sendirian ? Begitulah yang berkecamuk di dalam hati Jasmine yang putus asa.

Tapi Satria membimbing jiwa Jasmine yang sedang frustasi dengan sabar. Dia merelakan dirinya untuk mengantar Jasmine ke sekolah, di mana Jasmine mesti belajar huruf Braille. Dengan sabar Satria menuntun Jasmine menaiki bus kota menuju sekolah yang dituju. Dengan susah payah dan tertatih – tatih Jasmine melangkah bersama tongkatnya. Sementara Satria berada di sampingnya. Selesai mengantar Jasmine, dia menuju tempat dinasnya. Begitulah selama berhari – hari dan berminggu – minggu Satria mengantar dan menjemput Jasmine. Lengkap dengan seragam dinas security.

Tapi lama – kelamaan Satria sadar, tak mungkin selamanya Jasmine harus diantar  pulang dan pergi. Bagaimanapun juga Jasmine harus bisa mandiri, tak mungkin selamanya mengandalkan dirinya. Sebab dia juga punya pekerjaan yang harus dijalaninya. Dengan hati-hati dia mengutarakan maksudnya, supaya Jasmine tak tersinggung dan tak merasa dibuang. Sebab Jasmine, bagaimanapun juga masih terpukul dengan musibah yang dialaminya.

Seperti yang diramalkan Satria, Jasmine histeris mendengar itu. Dia merasa dirinya kini benar – benar telah tercampakkan.

”Saya buta, tak bisa melihat!” teriak Jasmine. “Bagaimana saya bisa tahu saya ada di mana ? Kamu telah benar – benar meninggalkan saya.”

Satria hancur hatinya mendengar itu. Tapi dia sadar apa yang mesti dilakukan. Mau tak mau Jasmine harus terima. Harus mau menjadi wanita yang mandiri.

Satria tak melepas Jasmine begitu saja. Setiap pagi, dia mengantar Jasmine menuju halte bus. Dan setelah dua minggu, Jasmine akhirnya bisa berangkat sendiri ke halte. Berjalan dengan tongkatnya. Satria menasehatinya agar mengandalkan indera pendengarannya, dimanapun dia berada. Setelah dirasanya yakin bahwa Jasmine bisa pergi sendiri, dengan tenang Satria pergi ke tempat dinas.

Tak mungkin bagi Satria untuk terus selalu menemani setiap saat ke manapun Jasmine pergi. Tak mungkin juga selalu diantar ke tempatnya belajar, sebab Satria juga punya pekerjaan yang harus dilakoni. Dan Jasmine adalah wanita yang dulu, sebelum buta, tak pernah menyerah pada tantangan dan wanita yang tak bisa diam saja. Kini dia harus menjadi Jasmine yang dulu, yang tegar, menyukai tantangan dan suka bekerja dan belajar.

Hari – hari pun berlalu. Dan sudah beberapa minggu Jasmine menjalani rutinitasnya belajar dengan menaiki bus kota sendirian.

Suatu hari, ketika Jasmine hendak turun dari bus, sopir bus berkata, “Saya sungguh iri padamu”.

Jasmine tidak yakin, kalau sopir itu bicara padanya. “Anda bicara pada saya?”

” Ya”, jawab sopir bus. “Saya benar-benar iri padamu”.

Jasmine kebingungan, heran dan tak habis berpikir. Bagaimana bisa di dunia ini, seorang wanita buta, yang berjalan terseok – seok dengan tongkatnya, hanya sekedar mencari keberanian mengisi sisa hidupnya, membuat orang lain merasa iri ?

“Apa maksud anda?” Jasmine bertanya penuh keheranan pada sopir itu.

“Kamu tahu,” jawab sopir bus, “Setiap pagi, sejak beberapa minggu ini, seorang lelaki muda dengan seragam militer selalu berdiri di seberang jalan. Dia memperhatikanmu dengan harap – harap cemas ketika kamu menuruni tangga bus. Dan ketika kamu menyeberang jalan, dia perhatikan langkahmu dan bibirnya tersenyum puas begitu kamu telah melewati jalan itu. Begitu kamu masuk gedung sekolahmu, dia meniupkan ciumannya padamu dan pergi dari situ. Kamu sungguh wanita yang sangat beruntung, ada yang memperhatikan dan melindungimu”.

Air mata bahagia mengalir di pipi Jasmine. Walaupun dia tidak melihat orang tersebut, dia yakin dan merasakan kehadiran Satria di sana. Dia merasa begitu beruntung, sangat beruntung, bahwa Satria telah memberinya sesuatu yang jauh lebih berharga daripada penglihatan. Sebuah pemberian yang tak perlu untuk dilihat, kasih sayang yang membawa cahaya, ketika dia berada dalam kegelapan.