Total Tayangan Halaman

Senin, 16 Februari 2015

Ketulusan Cinta Seorang Prajurit TNI



Seluruh penumpang di dalam bus merasa simpati melihat seorang wanita muda dengan tongkatnya meraba – raba menaiki tangga bus. Dengan tangannya yang lain dia meraba posisi di mana sopir berada, dan membayar ongkos bus. Lalu berjalan ke dalam bus mencari – cari bangku yang kosong dengan tangannya. Setelah yakin bangku yang dirabanya kosong, dia duduk. Meletakkan tasnya diatas pangkuan, dan satu tangannya masih memegang tongkat.

Satu tahun telah berlalu, Jasmine, wanita muda itu, mengalami kebutaan. Suatu kecelakaan telah terjadi atas dirinya, dan menghilangkan penglihatannya untuk selama – lamanya. Dunia tiba – tiba saja menjadi gelap dan segala harapan dan cita – citanya menjadi sirna. Jasmine adalah wanita yang penuh dengan ambisi menaklukan dunia, aktif di segala perkumpulan, baik di sekolah, rumah maupun di lingkungannya.

Tiba – tiba saja semuanya sirna, begitu kecelakaan itu dialaminya. Kegelapan, frustasi, dan rendah diri tiba-tiba saja menyelimuti jiwanya. Hilang sudah masa depan yang selama ini dicita – citakannya. Merasa tak berguna dan tak ada seorangpun yang sanggup menolongnya, selalu membisiki hatinya.

“Bagaimana ini bisa terjadi padaku?“ Jasmine menangis.

Hatinya protes, diliputi kemarahan dan putus asa. Tapi, tak peduli sebanyak apa pun dia mengeluh dan menangis, sebanyak apa pun dia protes, sebanyak apapun dia berdoa dan memohon, dia harus tahu, penglihatannya tak akan kembali. Di antara frustasi, depresi dan putus asa, dia masih beruntung, karena mempunyai suami yang begitu penyayang dan setia, Satria.

Satria adalah seorang prajurit TNI biasa yang bekerja sebagai security di sebuah perusahaan. Dia mencintai Jasmine dengan seluruh hatinya. Ketika mengetahui Jasmine kehilangan penglihatan, rasa cintanya tidak berkurang. Justru perhatiannya makin bertambah, ketika dilihatnya Jasmine tenggelam ke dalam jurang keputus – asaan . Satria ingin menolong mengembalikan rasa percaya diri Jasmine, seperti ketika Jasmine belum menjadi buta. Satria tahu, ini adalah perjuangan yang tidak gampang. Butuh extra waktu dan kesabaran yang tidak sedikit.

Karena buta, Jasmine tidak bisa terus bekerja di perusahaan tempatnya bekerja. Dia berhenti dengan terhormat. Satria mendorongnya supaya belajar huruf Braille. Dengan harapan, suatu saat bisa berguna untuk masa depan Jasmine. Tapi bagaimana Jasmine bisa belajar ? Sedangkan untuk pergi ke mana – mana saja selalu diantar oleh Satria. Dunia ini begitu gelap. Tak ada kesempatan sedikitpun untuk bisa melihat jalan. Dulu, sebelum menjadi buta, Jasmine memang biasa naik bus ke tempat kerja dan ke mana saja sendirian. Tapi kini, ketika buta, apa sanggup dia naik bus sendirian ? Berjalan sendirian ? Pulang – pergi sendirian ? Siapa yang akan melindunginya ketika sendirian ? Begitulah yang berkecamuk di dalam hati Jasmine yang putus asa.

Tapi Satria membimbing jiwa Jasmine yang sedang frustasi dengan sabar. Dia merelakan dirinya untuk mengantar Jasmine ke sekolah, di mana Jasmine mesti belajar huruf Braille. Dengan sabar Satria menuntun Jasmine menaiki bus kota menuju sekolah yang dituju. Dengan susah payah dan tertatih – tatih Jasmine melangkah bersama tongkatnya. Sementara Satria berada di sampingnya. Selesai mengantar Jasmine, dia menuju tempat dinasnya. Begitulah selama berhari – hari dan berminggu – minggu Satria mengantar dan menjemput Jasmine. Lengkap dengan seragam dinas security.

Tapi lama – kelamaan Satria sadar, tak mungkin selamanya Jasmine harus diantar  pulang dan pergi. Bagaimanapun juga Jasmine harus bisa mandiri, tak mungkin selamanya mengandalkan dirinya. Sebab dia juga punya pekerjaan yang harus dijalaninya. Dengan hati-hati dia mengutarakan maksudnya, supaya Jasmine tak tersinggung dan tak merasa dibuang. Sebab Jasmine, bagaimanapun juga masih terpukul dengan musibah yang dialaminya.

Seperti yang diramalkan Satria, Jasmine histeris mendengar itu. Dia merasa dirinya kini benar – benar telah tercampakkan.

”Saya buta, tak bisa melihat!” teriak Jasmine. “Bagaimana saya bisa tahu saya ada di mana ? Kamu telah benar – benar meninggalkan saya.”

Satria hancur hatinya mendengar itu. Tapi dia sadar apa yang mesti dilakukan. Mau tak mau Jasmine harus terima. Harus mau menjadi wanita yang mandiri.

Satria tak melepas Jasmine begitu saja. Setiap pagi, dia mengantar Jasmine menuju halte bus. Dan setelah dua minggu, Jasmine akhirnya bisa berangkat sendiri ke halte. Berjalan dengan tongkatnya. Satria menasehatinya agar mengandalkan indera pendengarannya, dimanapun dia berada. Setelah dirasanya yakin bahwa Jasmine bisa pergi sendiri, dengan tenang Satria pergi ke tempat dinas.

Tak mungkin bagi Satria untuk terus selalu menemani setiap saat ke manapun Jasmine pergi. Tak mungkin juga selalu diantar ke tempatnya belajar, sebab Satria juga punya pekerjaan yang harus dilakoni. Dan Jasmine adalah wanita yang dulu, sebelum buta, tak pernah menyerah pada tantangan dan wanita yang tak bisa diam saja. Kini dia harus menjadi Jasmine yang dulu, yang tegar, menyukai tantangan dan suka bekerja dan belajar.

Hari – hari pun berlalu. Dan sudah beberapa minggu Jasmine menjalani rutinitasnya belajar dengan menaiki bus kota sendirian.

Suatu hari, ketika Jasmine hendak turun dari bus, sopir bus berkata, “Saya sungguh iri padamu”.

Jasmine tidak yakin, kalau sopir itu bicara padanya. “Anda bicara pada saya?”

” Ya”, jawab sopir bus. “Saya benar-benar iri padamu”.

Jasmine kebingungan, heran dan tak habis berpikir. Bagaimana bisa di dunia ini, seorang wanita buta, yang berjalan terseok – seok dengan tongkatnya, hanya sekedar mencari keberanian mengisi sisa hidupnya, membuat orang lain merasa iri ?

“Apa maksud anda?” Jasmine bertanya penuh keheranan pada sopir itu.

“Kamu tahu,” jawab sopir bus, “Setiap pagi, sejak beberapa minggu ini, seorang lelaki muda dengan seragam militer selalu berdiri di seberang jalan. Dia memperhatikanmu dengan harap – harap cemas ketika kamu menuruni tangga bus. Dan ketika kamu menyeberang jalan, dia perhatikan langkahmu dan bibirnya tersenyum puas begitu kamu telah melewati jalan itu. Begitu kamu masuk gedung sekolahmu, dia meniupkan ciumannya padamu dan pergi dari situ. Kamu sungguh wanita yang sangat beruntung, ada yang memperhatikan dan melindungimu”.

Air mata bahagia mengalir di pipi Jasmine. Walaupun dia tidak melihat orang tersebut, dia yakin dan merasakan kehadiran Satria di sana. Dia merasa begitu beruntung, sangat beruntung, bahwa Satria telah memberinya sesuatu yang jauh lebih berharga daripada penglihatan. Sebuah pemberian yang tak perlu untuk dilihat, kasih sayang yang membawa cahaya, ketika dia berada dalam kegelapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar