“Aku
lulus, aku lulus. Horeee”.
Teriakan girang Avara disambut tepuk
tangan riuh sahabat – sahabatnya. Bagaimana tidak. Nama Avara ada dinomor urut
1, sebagai mahasiswa dengan nilai tertinggi di semester 6 jurusan PG PAUD Fakultas
Keguruan & Imu Pendidikan.
Satu per satu sahabat – sahabat Avara
memberikan selamat kepada gadis manis berkulit kuning langsat ini.
“Selamat ya, Vara”, Charina memeluk
Avara yang merupakan sahabatnya sejak balita.
“Makasih, Rin”, Avara membalas erat
pelukan Charina. “Eh, Rin. Aku harus cepat – cepat pulang. Mau kasih kabar
kalau aku lulus ke Mas Bayu.”.
“Oke. Tapi ingat traktirannya ya”,
Charina tertawa lebar.
“Sip deh. Habis yudisium ya. Bye bye”,
Avara langsung berlari – lari kecil kepelataran parkir. Dia segera memacu
sepeda motornya pulang.
Dibelokan perempatan yang menuju kampusnya
Avara hampir saja ditabrak oleh pengemudi taxi yang juga nampak kaget melihat
motor Avara muncul dibelokan. Avara mengerem mendadak motornya. Spontan dia
berteriak “Om kalau mau belok lihat – lihat dong”.
Pengemudi taxi tampak melambaikan
tangan tanda meminta maaf dan segera melaju meninggalkan Avara yang jantungnya
masih berdetak kencang akibat insiden tadi. “Nyaris saja”, pikir Avara. Dia
segera melanjutkan perjalanannya pulang. Sepanjang perjalanan pulang perasaan
Avara mulai tak enak. Dia pun menjalankan motornya perlahan, tidak terlalu
cepat.
Sesampainya dirumah, Avara mendapati
rumahnya kosong. Ibu dan bapaknya adalah pegawai disebuah kantor BUMN yang
bekerja dari pagi hingga sore. Kakaknya sendiri telah bekerja dan tinggal jauh
dari rumah.
Avara segera mengambil handphonenya
dan menelpon Bayu. Begitu sambungan diujung telpon diangkat, Avara langsung
berucap dengan kegirangan. “Halo Mas Bayu. Mas, Vara lulus. Nilai Vara yang
paling tinggi. Mas senang ngga ?”.
Tapi tidak disangka oleh Avara,
jawaban yang didengarnya kemudian justru berbeda.
“Belum juga saya berbicara tapi kamu
sudah nyerocos seperti tidak tahu
aturan. Tidak pernah diajarin ngomong sama orang tuamu ya ?”.
Avara tersentak. Tidak biasanya Bayu
seperti itu. “Ada apa, Mas ? Mas ada masalah ? Tidak biasanya Mas seperti ini
sama Vara”, Vara bertanya dengan suara pelan.
“Tidak. Saya tidak ada masalah. Eh
sudah ya. Saya sibuk”, Bayu mengakhiri pembicaraan.
“Tapi, Mas”, belum sempat Avara
menyelesaikan ucapannya, telpon sudah ditutup diseberang sana.
Avara terduduk lemas di tempat
tidurnya. Niatnya untuk berbagi kebahagiaan dengan orang yang dicintainya
berbalas sakit hati yang dirasakannya. Air matanya mulai bergulir ke pipinya.
Bayu adalah pacar Avara. Mereka sudah
menjalin hubungan sejak 2 tahun lalu. Bayu adalah seorang TNI Angkatan Darat
yang bertugas di Jakarta. Bayu dan Avara belum pernah bertemu lagi sejak mereka
menjalin hubungan 2 tahun yang lalu. Mereka hanya sempat bersua dan bersama
selama seminggu saat Bayu pulang cuti. Mereka pertama kali bertemu saat bersama
– sama menonton pawai obor tahun baru. Merasa punya banyak kesamaan, mereka
memutuskan untuk pacaran meskipun belum saling mengenal satu sama lain.
Pada awalnya Avara sangat bahagia
memiliki pacar seperti Bayu. Hampir setiap hari Bayu menelponnya. Setiap bangun
tidur, pada jam istirahat kerja, sore menjelang apel dan malam sebelum tidur. Satu
setengah tahun berlalu. Keadaan mulai berubah. Bayu mulai jarang menghubungi
Avara. Terkadang telpon dari Avara pun sering tak dijawab. Avara yang tidak mau
berburuk sangka selalu membesarkan hatinya sendiri bahwa mungkin Bayu sedang
sibuk dengan tugasnya.
Ketika telponnya dijawab dengan nada
kasar oleh Bayu, Avara pun berusaha berpikiran positif bahwa mungkin Bayu
sedang ada masalah dengan kedinasannya sehingga terbawa emosi ketika berbicara
dengan Avara. Tak sedikitpun Avara mau berpikiran buruk tentang Bayu, tentang
pria yang selama ini dicintainya sepenuh hati dari jarak jauh. Dan kali ini
Avara masih tetap sama, hanya bisa menyembunyikan wajahnya dibantal sambil
menangis.
*****
Dering HPnya membangunkan Bayu dari
tidur siangnya. “Avara Memanggil”. Tapi Bayu tak berniat sama sekali untuk
mengangkatnya. Rama yang sekamar dengan Bayu menegurnya. “HPmu memanggil
ratusan kali sejak tadi. Angkat sebentar kenapa. Itu Avara kan ?”.
“Ya. Tapi saya malas buat angkat
telponnya. Palingan juga Cuma mengingatkan makan, jaga kesehatan dan yang
lainnya yang ngga mutu. Lagian kalau saya sakit, dia tidak akan bisa ada disini
seperti Delia”.
Rama tercekat mendengar perkataan
Bayu. “Jadi kamu benar jadian dengan Delia ? Tidak kau pikir lagi Avara yang
sudah setia hampir 2 tahun ini padamu ? Kamu tidak akan pernah lagi menemukan
gadis seperti Avara. Setidaknya beri dia kepastian atas hubungan kalian”.
“Persetan dengan Avara. Biar saja
dia sadar sendiri dengan perubahan saya. Saya tidak akan memutuskan dia. Saya akan
menunggu dia yang memutuskan saya”, Bayu bangkit dari tempat tidurnya dan
berganti pakaian. “Saya sudah lepas piket. Sudah janji mau ngantar Delia ke toko buku. Saya keluar dulu”.
Rama hanya bisa menggeleng –
gelengkan kepalanya melihat Bayu yang sekarang. Sejak berkenalan dengan Delia,
Bayu banyak berubah. Tak hanya Avara yang diabaikan, tapi teman – temannya juga.
Rama tak banyak tahu tentang Delia. Rama hanya tahu Delia adalah mahasiswi
semester 4 di sebuah Fakultas Kedokteran. Ada keinginannya untuk memberi tahu
Avara tentang apa yang membuat Bayu berubah. Tapi Rama takut akan membuat Avara
sedih. “Sabar, Vara. Kelak Tuhan pasti punya rencana yang indah untukmu”.
*****
Dua tahun kemudian.
Bayu akhirnya dipindah tugaskan ke
Kota M yang berjarak 80 kilometer dari desa tempat lahirnya. Setelah sibuk urus
ini itu kesana kemari, sampailah Bayu di rumah dinasnya yang baru. Ketika dia
merapikan pigura foto yang dibawanya, matanya terpaku pada satu foto. Ya, itu
foto Avara. Avara yang dihindarinya sejak dirinya mengenal Delia. Delia yang
disangkanya jauh lebih baik dan lebih cantik daripada Avara. Ternyata kebalikannya
yang didapatnya. Mengetahui Bayu akan segera pindah, Delia pun memutuskan
hubungannya dengan Bayu dengan alasan tidak akan bisa mengikuti Bayu berpindah –
pindah dinas.
Penyesalan menghantui relung hati
Bayu. Sudah 2 tahun Avara kehilangan kontak Bayu karena Bayu sengaja mengganti
nomor teleponnya. Dan untuk pertama kali Bayu merasa tak ada lagi gadis sebaik
Avara. Rasa rindunya akan Avara semakin kuat. Diambilnya catatan kecil dari
dompetnya yang berisi nomor HP Avara. Bayu mencoba menghubungi Avara. Namun
yang terdengar hanya suara operator, “Nomor yang Anda hubungi tidak terdaftar”.
“Mungkin Avara ganti nomor”, batin
Bayu. “Mungkin dia sudah bahagia jadi guru sekarang”.
Selama seminggu Bayu merasa gelisah.
Dia berusaha mencari tahu tentang Avara, tapi usahanya tidak membuahkan hasil. Akhirnya
Bayu memutuskan untuk berkunjung ke desa. Dia berharap masih akan menemui Avara
disana.
*****
Suasana desa tampak sepi ketika mobil
yang dikendarai Bayu mulai memasuki desa. Tepat didepan rumah Avara, Bayu
menghentikan mobilnya. Tapi rumah itu sepertinya tidak berpenghuni. Banyak
sampah berserakan dimuka rumah itu. Bayu kembali menjalankan mobilnya untuk
mencari orang yang mungkin bisa memberinya informasi.
Tepat dibelokan jalan sebelah
lapangan desa Bayu melihat ada seorang wanita yang mengendarai sepeda motor
matic berpakaian layaknya guru. Bayu melambaikan tangannya meminta wanita
tersebut berhenti.
“Selamat siang, Dik. Saya mau tanya,
Avara sekarang tinggal dimana ya ?”, tanya Bayu.
Wanita itu mengerenyitkan dahinya. “Bapak
ini siapanya Avara ?”, tanya wanita itu perlahan.
“Saya Bayu, temannya Avara. Saya kehilangan
kontak Avara. Barangkali adik tahu Avara dimana”.
Wanita yang tidak lain adalah
Charina itu terkejut. “Jadi ini Mas Bayu”, batin Charina.
“Ya, saya tahu, Pak. Ayo singgah
dulu ke rumah saya”.
Tanpa menunggu jawaban Bayu, Charina
segera menjalankan motornya. Bayu sendiri mengikutinya dari belakang sambil
bertanya – tanya kenapa dirinya harus singgah dulu di rumah wanita ini.
Sesampainya di rumah Charina,
Charina meminta Bayu untuk duduk. Charina kemudian memanggil kedua orang tuanya
untuk ikut duduk menemani Bayu. Bayu masih belum mengerti. Dalam benaknya
dipenuhi dengan sejuta tanda tanya.
“Mas Bayu kemana saja 2 tahun
terakhir ini ? Kenapa menghilang dari Avara ?”, Charina memulai pembicaraan.
Bayu tersentak. “Kamu kenal saya
dari mana ?”.
“Saya Charina, Mas. Teman Avara dari
kecil sampai sama – sama lulus kuliah. Tapi sayang cita – cita Avara untuk
menjadi guru tidak bisa terwujud”, mata Charina tampak berkaca – kaca. Charina
berusaha menahan air matanya. Tampak ibu Charina mengelus pundak anaknya. Sementara
ayah Charina hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
Bayu semakin bingung. “Saya tidak
mengerti apa yang adik bilang. Bisa adik jelaskan, Avara sekarang dimana”.
“Avara sudah meninggal enam bulan
yang lalu, Mas”, Charina terisak. “Sebelum meninggal Avara selalu menanyakan
Mas Bayu. Bahkan disisa tenaganya, dia masih bisa menuliskan surat untuk Mas
Bayu”.
Bayu seperti tersambar petir disiang
bolong. “Adik bohong kan ? Avara dimana sekarang, Dik ?”, air mata Bayu mulai
jatuh.
Charina mengusap air matanya. “Ayo
ikut saya, Mas”.
Charina mengantarkan Bayu ke sebuah
taman kecil dengan sebuah pusara ditengahnya. Itulah tempat peristirahatan
terakhir Avara. Sebuah nisan cantik berhias bunga bertuliskan “Pusara Yang
Tercinta Avara Putri Pertiwi”.
Bayu tertegun. Hanya bisa berlutut
sambil menangis. Bayu merasa dunianya seperti kiamat. “Avara, Avara, Avara”.
Hatinya menjerit memanggil nama Avara.
“Avara meninggal 6 bulan lalu, Mas”,
Charina mulai bercerita. “Dokter memvonisnya terkena kanker nasofaring sejak
setahun yang lalu. Orang tuanya sudah mengusahakan yang terbaik untuk Avara. Tapi
Tuhan berkehendak lain. Keinginan Avara untuk tetap hidup juga sangat kecil.
Saat sakit, dia selalu menanyakan Mas Bayu. Katanya dia takut kalau Mas Bayu
kenapa – kenapa. Dia bilang dia selalu berdoa untuk kebahagiaan Mas Bayu.
Setelah pusara Avara ini selesai, orang tua dan kakak Avara memutuskan pindah
ke luar daerah. Makam ini dititipkan pada saya untuk dirawat. Orang tua Avara
tidak sanggup terus – terusan tinggal disini. Mereka selalu sedih setiap
mengingat Avara. Avara punya keinginan untuk bertemu Mas Bayu sebelum
meninggal. Tapi tidak ada satu pun diantara kami yang tahu Mas Bayu dimana”,
Charina bercerita panjang lebar.
Bayu menundukkan kepalanya.
Tangannya mengusap – usap pusara Avara. Tak henti – hentinya dirinya menyesali
perlakuannya terhadap Avara. “Dik, saya boleh lihat surat Avara untuk saya”.
Charina memberikan sebuah surat
bersampul merah muda. “Dulu saya pikir saya akan menyimpan surat ini selamanya
karena saya tidak tahu Mas Bayu dimana”.
Sore mulai menjelang. Matahari mulai
turun keperaduannya. Bayu mengantar Charina pulang.
“Mas Bayu tidak singgah lagi ?”.
“Tidak, Rin. Mas harus pulang
sekarang. Nanti Mas akan sering berkunjung kesini. Salam buat ibu dan bapak ya”.
“Hati – hati dijalan, Mas. Avara
pasti selalu melihat Mas Bayu dari sana”.
Bayu tersenyum pahit. Dia
melambaikan tangannya.
Sepanjang perjalanan pulang Bayu
terus menangis. Dia tak bisa membayangkan betapa kejamnya dirinya terhadap
Avara. Sesampainya di rumah dinasnya, Bayu segera masuk ke kamarnya dan membuka
surat dari Avara.
Untuk
Mas Bayu yang tersayang,,
Mas,
kalau Mas membaca surat ini, mungkin Avara sudah pergi jauh.
Bukan
maksud Avara untuk meninggalkan Mas.
Tapi
inilah suratan takdir Avara.
Avara
tahu kalau Mas tidak lagi mencintai Avara.
Avara
juga mengerti kalau Mas butuh perempuan yang jauh lebih baik
daripada
Avara.
Semoga
Mas bisa mendapatkan semua yang Mas inginkan.
Semoga
Mas dipenuhi berkat berkelimpahan.
Kalau
Mas bahagia, Avara juga bahagia.
Avara
berharap banyak surat ini bisa sampai ditangan Mas Bayu.
Mas
jaga diri baik – baik ya.
Dunia
akhirat Avara akan selalu mencintai Mas Bayu.
Peluk cium
Avara
Bayu tak bisa lagi menahan perasaan
sedihnya. Kini semuanya sudah hancur. Harapannya, cintanya, tak ada lagi yang
tersisa. Kini yang tinggal hanyalah penyesalan yang mungkin seumur hidup tak
akan pernah bisa dilupakannya. “Avara, maafkan Mas yang sudah terlalu bodoh
meninggalkanmu. Avara, Avara, Avara”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar