Total Tayangan Halaman

Kamis, 19 November 2015

Avara ( Karya D’de Cha'cha )

“Aku lulus, aku lulus. Horeee”.

            Teriakan girang Avara disambut tepuk tangan riuh sahabat – sahabatnya. Bagaimana tidak. Nama Avara ada dinomor urut 1, sebagai mahasiswa dengan nilai tertinggi di semester 6 jurusan PG PAUD Fakultas Keguruan & Imu Pendidikan.

            Satu per satu sahabat – sahabat Avara memberikan selamat kepada gadis manis berkulit kuning langsat ini.

            “Selamat ya, Vara”, Charina memeluk Avara yang merupakan sahabatnya sejak balita.

            “Makasih, Rin”, Avara membalas erat pelukan Charina. “Eh, Rin. Aku harus cepat – cepat pulang. Mau kasih kabar kalau aku lulus ke Mas Bayu.”.

            “Oke. Tapi ingat traktirannya ya”, Charina tertawa lebar.

            “Sip deh. Habis yudisium ya. Bye bye”, Avara langsung berlari – lari kecil kepelataran parkir. Dia segera memacu sepeda motornya pulang.

            Dibelokan perempatan yang menuju kampusnya Avara hampir saja ditabrak oleh pengemudi taxi yang juga nampak kaget melihat motor Avara muncul dibelokan. Avara mengerem mendadak motornya. Spontan dia berteriak “Om kalau mau belok lihat – lihat dong”.

            Pengemudi taxi tampak melambaikan tangan tanda meminta maaf dan segera melaju meninggalkan Avara yang jantungnya masih berdetak kencang akibat insiden tadi. “Nyaris saja”, pikir Avara. Dia segera melanjutkan perjalanannya pulang. Sepanjang perjalanan pulang perasaan Avara mulai tak enak. Dia pun menjalankan motornya perlahan, tidak terlalu cepat.

            Sesampainya dirumah, Avara mendapati rumahnya kosong. Ibu dan bapaknya adalah pegawai disebuah kantor BUMN yang bekerja dari pagi hingga sore. Kakaknya sendiri telah bekerja dan tinggal jauh dari rumah.

            Avara segera mengambil handphonenya dan menelpon Bayu. Begitu sambungan diujung telpon diangkat, Avara langsung berucap dengan kegirangan. “Halo Mas Bayu. Mas, Vara lulus. Nilai Vara yang paling tinggi. Mas senang ngga ?”.

            Tapi tidak disangka oleh Avara, jawaban yang didengarnya kemudian justru berbeda.

            “Belum juga saya berbicara tapi kamu sudah nyerocos seperti tidak tahu aturan. Tidak pernah diajarin ngomong sama orang tuamu ya ?”.

            Avara tersentak. Tidak biasanya Bayu seperti itu. “Ada apa, Mas ? Mas ada masalah ? Tidak biasanya Mas seperti ini sama Vara”, Vara bertanya dengan suara pelan.

            “Tidak. Saya tidak ada masalah. Eh sudah ya. Saya sibuk”, Bayu mengakhiri pembicaraan.

            “Tapi, Mas”, belum sempat Avara menyelesaikan ucapannya, telpon sudah ditutup diseberang sana.

            Avara terduduk lemas di tempat tidurnya. Niatnya untuk berbagi kebahagiaan dengan orang yang dicintainya berbalas sakit hati yang dirasakannya. Air matanya mulai bergulir ke pipinya.

Bayu adalah pacar Avara. Mereka sudah menjalin hubungan sejak 2 tahun lalu. Bayu adalah seorang TNI Angkatan Darat yang bertugas di Jakarta. Bayu dan Avara belum pernah bertemu lagi sejak mereka menjalin hubungan 2 tahun yang lalu. Mereka hanya sempat bersua dan bersama selama seminggu saat Bayu pulang cuti. Mereka pertama kali bertemu saat bersama – sama menonton pawai obor tahun baru. Merasa punya banyak kesamaan, mereka memutuskan untuk pacaran meskipun belum saling mengenal satu sama lain.

            Pada awalnya Avara sangat bahagia memiliki pacar seperti Bayu. Hampir setiap hari Bayu menelponnya. Setiap bangun tidur, pada jam istirahat kerja, sore menjelang apel dan malam sebelum tidur. Satu setengah tahun berlalu. Keadaan mulai berubah. Bayu mulai jarang menghubungi Avara. Terkadang telpon dari Avara pun sering tak dijawab. Avara yang tidak mau berburuk sangka selalu membesarkan hatinya sendiri bahwa mungkin Bayu sedang sibuk dengan tugasnya.

            Ketika telponnya dijawab dengan nada kasar oleh Bayu, Avara pun berusaha berpikiran positif bahwa mungkin Bayu sedang ada masalah dengan kedinasannya sehingga terbawa emosi ketika berbicara dengan Avara. Tak sedikitpun Avara mau berpikiran buruk tentang Bayu, tentang pria yang selama ini dicintainya sepenuh hati dari jarak jauh. Dan kali ini Avara masih tetap sama, hanya bisa menyembunyikan wajahnya dibantal sambil menangis.

*****

            Dering HPnya membangunkan Bayu dari tidur siangnya. “Avara Memanggil”. Tapi Bayu tak berniat sama sekali untuk mengangkatnya. Rama yang sekamar dengan Bayu menegurnya. “HPmu memanggil ratusan kali sejak tadi. Angkat sebentar kenapa. Itu Avara kan ?”.

            “Ya. Tapi saya malas buat angkat telponnya. Palingan juga Cuma mengingatkan makan, jaga kesehatan dan yang lainnya yang ngga mutu. Lagian kalau saya sakit, dia tidak akan bisa ada disini seperti Delia”.

            Rama tercekat mendengar perkataan Bayu. “Jadi kamu benar jadian dengan Delia ? Tidak kau pikir lagi Avara yang sudah setia hampir 2 tahun ini padamu ? Kamu tidak akan pernah lagi menemukan gadis seperti Avara. Setidaknya beri dia kepastian atas hubungan kalian”.

            “Persetan dengan Avara. Biar saja dia sadar sendiri dengan perubahan saya. Saya tidak akan memutuskan dia. Saya akan menunggu dia yang memutuskan saya”, Bayu bangkit dari tempat tidurnya dan berganti pakaian. “Saya sudah lepas piket. Sudah janji mau ngantar Delia ke toko buku. Saya keluar dulu”.

            Rama hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya melihat Bayu yang sekarang. Sejak berkenalan dengan Delia, Bayu banyak berubah. Tak hanya Avara yang diabaikan, tapi teman – temannya juga. Rama tak banyak tahu tentang Delia. Rama hanya tahu Delia adalah mahasiswi semester 4 di sebuah Fakultas Kedokteran. Ada keinginannya untuk memberi tahu Avara tentang apa yang membuat Bayu berubah. Tapi Rama takut akan membuat Avara sedih. “Sabar, Vara. Kelak Tuhan pasti punya rencana yang indah untukmu”.

*****

            Dua tahun kemudian.

            Bayu akhirnya dipindah tugaskan ke Kota M yang berjarak 80 kilometer dari desa tempat lahirnya. Setelah sibuk urus ini itu kesana kemari, sampailah Bayu di rumah dinasnya yang baru. Ketika dia merapikan pigura foto yang dibawanya, matanya terpaku pada satu foto. Ya, itu foto Avara. Avara yang dihindarinya sejak dirinya mengenal Delia. Delia yang disangkanya jauh lebih baik dan lebih cantik daripada Avara. Ternyata kebalikannya yang didapatnya. Mengetahui Bayu akan segera pindah, Delia pun memutuskan hubungannya dengan Bayu dengan alasan tidak akan bisa mengikuti Bayu berpindah – pindah dinas.

            Penyesalan menghantui relung hati Bayu. Sudah 2 tahun Avara kehilangan kontak Bayu karena Bayu sengaja mengganti nomor teleponnya. Dan untuk pertama kali Bayu merasa tak ada lagi gadis sebaik Avara. Rasa rindunya akan Avara semakin kuat. Diambilnya catatan kecil dari dompetnya yang berisi nomor HP Avara. Bayu mencoba menghubungi Avara. Namun yang terdengar hanya suara operator, “Nomor yang Anda hubungi tidak terdaftar”.

            “Mungkin Avara ganti nomor”, batin Bayu. “Mungkin dia sudah bahagia jadi guru sekarang”.

            Selama seminggu Bayu merasa gelisah. Dia berusaha mencari tahu tentang Avara, tapi usahanya tidak membuahkan hasil. Akhirnya Bayu memutuskan untuk berkunjung ke desa. Dia berharap masih akan menemui Avara disana.

*****

            Suasana desa tampak sepi ketika mobil yang dikendarai Bayu mulai memasuki desa. Tepat didepan rumah Avara, Bayu menghentikan mobilnya. Tapi rumah itu sepertinya tidak berpenghuni. Banyak sampah berserakan dimuka rumah itu. Bayu kembali menjalankan mobilnya untuk mencari orang yang mungkin bisa memberinya informasi.

            Tepat dibelokan jalan sebelah lapangan desa Bayu melihat ada seorang wanita yang mengendarai sepeda motor matic berpakaian layaknya guru. Bayu melambaikan tangannya meminta wanita tersebut berhenti.

            “Selamat siang, Dik. Saya mau tanya, Avara sekarang tinggal dimana ya ?”, tanya Bayu.

            Wanita itu mengerenyitkan dahinya. “Bapak ini siapanya Avara ?”, tanya wanita itu perlahan.

            “Saya Bayu, temannya Avara. Saya kehilangan kontak Avara. Barangkali adik tahu Avara dimana”.

            Wanita yang tidak lain adalah Charina itu terkejut. “Jadi ini Mas Bayu”, batin Charina.

            “Ya, saya tahu, Pak. Ayo singgah dulu ke rumah saya”.

            Tanpa menunggu jawaban Bayu, Charina segera menjalankan motornya. Bayu sendiri mengikutinya dari belakang sambil bertanya – tanya kenapa dirinya harus singgah dulu di rumah wanita ini.

            Sesampainya di rumah Charina, Charina meminta Bayu untuk duduk. Charina kemudian memanggil kedua orang tuanya untuk ikut duduk menemani Bayu. Bayu masih belum mengerti. Dalam benaknya dipenuhi dengan sejuta tanda tanya.

            “Mas Bayu kemana saja 2 tahun terakhir ini ? Kenapa menghilang dari Avara ?”, Charina memulai pembicaraan.

            Bayu tersentak. “Kamu kenal saya dari mana ?”.

            “Saya Charina, Mas. Teman Avara dari kecil sampai sama – sama lulus kuliah. Tapi sayang cita – cita Avara untuk menjadi guru tidak bisa terwujud”, mata Charina tampak berkaca – kaca. Charina berusaha menahan air matanya. Tampak ibu Charina mengelus pundak anaknya. Sementara ayah Charina hanya diam sambil menundukkan kepalanya.

            Bayu semakin bingung. “Saya tidak mengerti apa yang adik bilang. Bisa adik jelaskan, Avara sekarang dimana”.

            “Avara sudah meninggal enam bulan yang lalu, Mas”, Charina terisak. “Sebelum meninggal Avara selalu menanyakan Mas Bayu. Bahkan disisa tenaganya, dia masih bisa menuliskan surat untuk Mas Bayu”.

            Bayu seperti tersambar petir disiang bolong. “Adik bohong kan ? Avara dimana sekarang, Dik ?”, air mata Bayu mulai jatuh.

            Charina mengusap air matanya. “Ayo ikut saya, Mas”.

            Charina mengantarkan Bayu ke sebuah taman kecil dengan sebuah pusara ditengahnya. Itulah tempat peristirahatan terakhir Avara. Sebuah nisan cantik berhias bunga bertuliskan “Pusara Yang Tercinta Avara Putri Pertiwi”.

            Bayu tertegun. Hanya bisa berlutut sambil menangis. Bayu merasa dunianya seperti kiamat. “Avara, Avara, Avara”. Hatinya menjerit memanggil nama Avara.

            “Avara meninggal 6 bulan lalu, Mas”, Charina mulai bercerita. “Dokter memvonisnya terkena kanker nasofaring sejak setahun yang lalu. Orang tuanya sudah mengusahakan yang terbaik untuk Avara. Tapi Tuhan berkehendak lain. Keinginan Avara untuk tetap hidup juga sangat kecil. Saat sakit, dia selalu menanyakan Mas Bayu. Katanya dia takut kalau Mas Bayu kenapa – kenapa. Dia bilang dia selalu berdoa untuk kebahagiaan Mas Bayu. Setelah pusara Avara ini selesai, orang tua dan kakak Avara memutuskan pindah ke luar daerah. Makam ini dititipkan pada saya untuk dirawat. Orang tua Avara tidak sanggup terus – terusan tinggal disini. Mereka selalu sedih setiap mengingat Avara. Avara punya keinginan untuk bertemu Mas Bayu sebelum meninggal. Tapi tidak ada satu pun diantara kami yang tahu Mas Bayu dimana”, Charina bercerita panjang lebar.

            Bayu menundukkan kepalanya. Tangannya mengusap – usap pusara Avara. Tak henti – hentinya dirinya menyesali perlakuannya terhadap Avara. “Dik, saya boleh lihat surat Avara untuk saya”.

            Charina memberikan sebuah surat bersampul merah muda. “Dulu saya pikir saya akan menyimpan surat ini selamanya karena saya tidak tahu Mas Bayu dimana”.

            Sore mulai menjelang. Matahari mulai turun keperaduannya. Bayu mengantar Charina pulang.

            “Mas Bayu tidak singgah lagi ?”.

            “Tidak, Rin. Mas harus pulang sekarang. Nanti Mas akan sering berkunjung kesini. Salam buat ibu dan bapak ya”.

            “Hati – hati dijalan, Mas. Avara pasti selalu melihat Mas Bayu dari sana”.

            Bayu tersenyum pahit. Dia melambaikan tangannya.

            Sepanjang perjalanan pulang Bayu terus menangis. Dia tak bisa membayangkan betapa kejamnya dirinya terhadap Avara. Sesampainya di rumah dinasnya, Bayu segera masuk ke kamarnya dan membuka surat dari Avara.


Untuk Mas Bayu yang tersayang,,

Mas, kalau Mas membaca surat ini, mungkin Avara sudah pergi jauh.
Bukan maksud Avara untuk meninggalkan Mas.
Tapi inilah suratan takdir Avara.

Avara tahu kalau Mas tidak lagi mencintai Avara.
Avara juga mengerti kalau Mas butuh perempuan yang jauh lebih baik
daripada Avara.
Semoga Mas bisa mendapatkan semua yang Mas inginkan.
Semoga Mas dipenuhi berkat berkelimpahan.
Kalau Mas bahagia, Avara juga bahagia.

Avara berharap banyak surat ini bisa sampai ditangan Mas Bayu.

Mas jaga diri baik – baik ya.
Dunia akhirat Avara akan selalu mencintai Mas Bayu.

                                    Peluk cium
                                                Avara


            Bayu tak bisa lagi menahan perasaan sedihnya. Kini semuanya sudah hancur. Harapannya, cintanya, tak ada lagi yang tersisa. Kini yang tinggal hanyalah penyesalan yang mungkin seumur hidup tak akan pernah bisa dilupakannya. “Avara, maafkan Mas yang sudah terlalu bodoh meninggalkanmu. Avara, Avara, Avara”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar