Total Tayangan Halaman

Kamis, 19 November 2015

KADO CINTA SANG PRAJURIT ( Karya D’de Cha’cha )

      Senja perlahan mulai tiba. Matahari mulai turun keperaduannya. Langit senja terlihat memerah. Namun hiruk pikuk suasana di Bandar Udara Sam Ratulangi Manado masih tetap berjalan seperti saat pagi hari.

            Rasa penat dan lelah mulai menjalari sekujur tubuh Putri yang sejak siang tadi menunggu Aditya, sang kekasih yang dijadwalkan tiba hari ini. Berkali – kali dia keluar masuk mobil yang disewanya untuk menjemput Aditya. Sopir yang mengemudi mobil itu memilih berjalan – jalan disekitar bandara dan membiarkan Putri menunggu sendirian didalam mobil.

            Tiba – tiba handphone Putri berdering. “Aditya Calling”.

            “Halo, Dit. Kamu sudah dimana ? Aku  dari tadi nunggu kamu dalam mobil.”, kata Putri sedikit kesal.

            “Kamu masih sama seperti dulu, tidak sabaran”, Aditya tertawa renyah.

            “Gimana mau sabar ? Aku sudah di bandara sejak jam sebelas tadi”, Putri sedikit mengubah nada bicaranya. Hatinya merasa damai mendengar suara Aditya.

            “Aku sudah dimuka KFC. Taxinya yang mana ?”, Aditya turun perlahan kepelataran parkir.

            “Disebelah kiri nomor tiga dari depan. Biasa, mobilnya Om Bayu”.

            Putri keluar dari dalam taxi. Sedetik kemudian dia melihat sosok yang sangat dirindukannya itu berlari – lari kecil menghampirinya. Putri sangat gembira. Akhirnya dirinya bersua juga dengan Aditya setelah berpisah selama dua tahun.

            Aditya adalah seorang prajurit TNI Angkatan Darat yang ditugaskan di Yonif 754/ENK Timika, Papua. Sudah empat tahun lamanya dia ditugaskan disana. Dua tahun sekali dirinya pulang ke kampung halamannya untuk berlibur sekaligus melepas rindu kepada orang tuanya dan kekasihnya.

            Aditya kelihatan kerepotan menarik kopernya yang cukup besar sambil berlari – lari kecil. Putri tertawa geli melihatnya.

            “Senang ya lihat aku narik koper segede ini”, Aditya nampak sedikit protes.

            “Siapa yang nyuruh bawa koper segede itu ? Mau liburan atau mau pindahan ?”, sahut Putri sambil tertawa.

            “Aku punya kado ulang tahun untukmu”, Aditya tersenyum.

            “Mana ?”, wajah Putri nampak kegirangan.

            “Ulang tahunmu kan besok. Jadi besok baru bisa aku berikan. Ngomong – ngomong Om Bayu kemana ya ?”.

            “Yaaahhh. Ku kira sekarang”, Putri nampak cemberut. “Tapi ngga apa – apa deh. Tunggu sebentar. Aku telpon Om Bayu dulu”.

            “Ngga perlu ditelpon. Om sudah disini”, tiba – tiba Om Bayu muncul dari arah belakang parkiran.

            Spontan saja Aditya dan Putri kaget setengah mati.

            “Om ngintip ya dari tadi”, selidik Putri.

            “Ah, tidak kok. Cuma menanti sedikit adegan romantis pertemuan sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu. Tapi adegannya tidak kunjung ada”, Om Bayu tertawa terbahak – bahak.

            “Kita bukan anak kecil lagi, Om”, Putri tersenyum simpul.

            “Ya, Om tahu. Kalian sudah sangat dewasa”, Om Bayu menepuk pundak Aditya. “Hai Dit, tambah keren saja kamu”.

            “Om bisa saja. Kabar baik, Om. Ngomong – ngomong, pulang yuk. Ngga usah singgah – singgah lagi.  Sudah kangen masakan mama”, Aditya menatap wajah Putri. Putri mengangguk tanda menyetujui.

            “Oke. Ayo masuk. Kita pulang sekarang”, kata Om Bayu.

            Mobil Om Bayu perlahan – lahan mulai meninggalkan pelataran parkir bandara. Perjalanan untuk pulang ke kampung akan memakan waktu selama lima jam. Putri yang sejak siang sudah di bandara terlihat sangat mengantuk. Begitu mobil memasuki Kota Manado, Putri terlihat sudah tertidur.

            Aditya menoleh ke samping. Ditatapnya raut wajah Putri yang terlihat lelah. Aditya kemudian mengambil tasnya dan mengeluarkan jaketnya. Dirangkulnya Putri dan diselimutinya dengan jaket.

            “Dia wanita yang hebat. Tiap hari dia menunggu kepulanganmu tanpa tergoda sedikitpun dengan banyaknya rayuan yang datang dalam hari – harinya”, Om Bayu berkata pelan tanpa menoleh.

            “Saya tahu, Om. Tapi saya belum bisa membahagiakan dia sampai saat ini”, Aditya mengusap rambut Putri yang tertidur nyenyak.

            “Bahagia itu subjektif, Dit. Yang penting tetaplah setia pada dia”.

            “Pasti, Om”.

            Setengah jam kemudian Aditya terlihat ikut tertidur. Om Bayu mengemudi dengan hati – hati karena jalan Trans Sulawesi tergolong jalan yang ramai kendaraan meskipun pada malam hari. Om Bayu melirik kaca depannya. Dia melihat Aditya dan Putri sudah tertidur. Dalam hatinya berkata “semoga Tuhan selalu melindungi hubungan kalian”.
*****

            Jam sudah menunjuk pukul 23.00 WITA ketika mobil Om Bayu mulai memasuki Desa Werdhi Agung. Aditya mulai terbangun. Sedangkan Putri nampak masih tertidur nyenyak. Tak lama kemudian mobil perlahan – lahan memasuki pekarangan rumah Putri.

            “Sayang, bangun. Kita sudah sampai”, Aditya sedikit mengguncang bahu Putri.

            Putri membuka matanya. “Sudah sampai di rumah ya ?”, Putri mengusap matanya.

            “Iya. Ayo turun”, Aditya menuntun Putri turun dari mobil.

            Diteras rumah Putri sudah berdiri Mama dan Papanya Putri yang sengaja belum tidur untuk menunggu kepulangan Aditya. Aditya sudah seperti anak mereka sendiri.

            “Kalian berdua cepat masuk. Sudah dingin sekali udaranya. Biar Papa yang bayar ongkosnya”, kata Papa Putri.

            “Tapi, Pa. Adit ada uang kok”, Aditya mencoba menolak secara halus.

            “Sudah, tak apa, Dit. Ayo masuk”, kata Mama Putri.

            Aditya mengangguk dan menggandeng tangan Putri masuk kedalam rumah. Mama Putri segera membuatkan minuman panas.

            “Kamu mau tidur disini, Dit ?” tanya Putri.

            “Aku sudah SMS Papa minta jemput. Ngga enak kalau menginap. Nanti besok kita ketemu ditempat biasa”, Aditya mengusap rambut Putri.

            “Tapi mana hadiah ulang tahunku ?”

            “Oh ya. Aku hampir lupa”, Aditya melihat jam tangannya. 5 menit lagi menunjuk pukul 00.00 WITA.

            Aditya mengeluarkan kado berbungkus plastik pink.

            “Apa lagi yang kamu hadiahkan untuk Putri, Dit ? Sudah besar begitu jangan terlalu dimanja dengan hadiah”, Mama Putri meletakkan minuman panas dimeja tamu. “Ayo diminum dulu, Dit. Ini cokelat kesukaanmu”.

            “Mama apa’an sih ?” protes Putri. Aditya tersenyum – senyum menyaksikannya.

            Tiiittt, tiiittt, tiiiittt.

            Jam dipergelangan tangan Aditya menunjuk tepat pukul 00.00 WITA.

            Aditya memeluk Putri. “Happy Birthday, Sayang. Panjang umur, sehat selalu, tambah dewasa, ngga rewel lagi, banyak rejeki, tambah sukses pekerjaannya.”

            Putri tersenyum. “Terima kasih ya, Dit.”

            Papa dan Mama Putri pun bergantian memeluk Putri untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Tak lama kemudian Papa Aditya datang menjemput Aditya.

*****

            Pukul 08.00 WITA.

            Alarm HP Putri berkali – kali berbunyi. Tapi Putri sepertinya enggan untuk bangun dari tempat tidurnya. Dia masih merasa penat setelah perjalanan panjang kemarin. Semenit kemudian suara alarm HPnya berubah menjadi nada panggilan. Dengan malas Putri menjawab panggilannya.

            “Selamat pagi, Sayang. Sudah bangun belum ?”, suara Aditya diseberang sana.

            “Masih malas bangun, Dit. Masih cape”, jawab Putri agak malas – malasan.

            “Hari ini kan ulang tahunmu. Aku mau ngajak kamu makan ketempat biasa. Mau ? Kalau mau, aku jemput jam 9”, kata Adit.

            “Iya deh. Aku mandi dulu ya kalau begitu”.

            Putri segera mandi dan bersiap – siap. Sudah dua tahun lamanya dirinya tak makan bersama dengan Aditya. Ini momen yang paling disenanginya jika Aditya pulang.

            Tepat pukul 09.00 Aditya menjemput Putri. Setelah pamitan, mereka menuju ke tempat makan favorite mereka. Selesai makan, mereka berdua berputar – putar mengunjungi kerabat dan kawan – kawan Aditya.

            Seharian ini Putri merasa sangat senang.

            Sore beranjak turun. Mereka pun pulang. Sesampainya di rumah Putri, mereka disambut oleh Mama Putri.

            “Sudah puas jalan – jalannya ?”, Mama Putri menggoda anaknya.

            “Puas lah, Ma”, Putri menjawab sambil tertawa.

            “Aku mau memberikan hadiah yang aku janjikan kemarin”, kata Aditya.

            Putri mengerutkan keningnya. “Lho, bukannya boneka kemarin itu hadiahnya ?”.

            “Bukan”, Aditya tersenyum. “Ini hadiah ulang tahun untukmu”, Aditya menyodorkan selembar kertas putih.

            Putri membaca tulisan yang ada dikertas itu. Serasa tak percaya, dia mengulanginya kembali membaca dari atas sampai selesai. “Ini serius ?”, tanya Putri dengan mata berkaca – kaca.

            Aditya mengangguk perlahan.

            “Setahun aku berusaha agar bisa pindah. Agar kita tidak jauh lagi. Aku tahu bagaimana perasaanmu disaat aku jauh dari kamu. Makanya kemarin kamu lihat aku pulang bawa koper. Barang – barang lain menyusul dikirim. Mulai minggu depan aku sudah dinas disini. Kamu senang dengan hadiah ini ?”.

            Putri tak bisa menahan tangisnya. Dipeluknya Aditya erat – erat. “Terima kasih, Dit. Ini hadiah ulang tahun yang paling berharga dan tak akan pernah ku lupakan”.


            Mama Putri yang menyaksikannya pun terharu. Dalam hatinya berdoa agar cinta dua sejoli ini diberkati Tuhan hingga saatnya nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar