Senja
perlahan mulai tiba. Matahari mulai turun keperaduannya. Langit senja terlihat
memerah. Namun hiruk pikuk suasana di Bandar Udara Sam Ratulangi Manado masih
tetap berjalan seperti saat pagi hari.
Rasa penat dan lelah mulai menjalari
sekujur tubuh Putri yang sejak siang tadi menunggu Aditya, sang kekasih yang
dijadwalkan tiba hari ini. Berkali – kali dia keluar masuk mobil yang disewanya
untuk menjemput Aditya. Sopir yang mengemudi mobil itu memilih berjalan – jalan
disekitar bandara dan membiarkan Putri menunggu sendirian didalam mobil.
Tiba – tiba handphone Putri
berdering. “Aditya Calling”.
“Halo, Dit. Kamu sudah dimana ?
Aku dari tadi nunggu kamu dalam mobil.”,
kata Putri sedikit kesal.
“Kamu masih sama seperti dulu, tidak
sabaran”, Aditya tertawa renyah.
“Gimana mau sabar ? Aku sudah di
bandara sejak jam sebelas tadi”, Putri sedikit mengubah nada bicaranya. Hatinya
merasa damai mendengar suara Aditya.
“Aku sudah dimuka KFC. Taxinya yang
mana ?”, Aditya turun perlahan kepelataran parkir.
“Disebelah kiri nomor tiga dari
depan. Biasa, mobilnya Om Bayu”.
Putri keluar dari dalam taxi.
Sedetik kemudian dia melihat sosok yang sangat dirindukannya itu berlari – lari
kecil menghampirinya. Putri sangat gembira. Akhirnya dirinya bersua juga dengan
Aditya setelah berpisah selama dua tahun.
Aditya adalah seorang prajurit TNI
Angkatan Darat yang ditugaskan di Yonif 754/ENK Timika, Papua. Sudah empat
tahun lamanya dia ditugaskan disana. Dua tahun sekali dirinya pulang ke kampung
halamannya untuk berlibur sekaligus melepas rindu kepada orang tuanya dan
kekasihnya.
Aditya kelihatan kerepotan menarik
kopernya yang cukup besar sambil berlari – lari kecil. Putri tertawa geli
melihatnya.
“Senang ya lihat aku narik koper
segede ini”, Aditya nampak sedikit protes.
“Siapa yang nyuruh bawa koper segede
itu ? Mau liburan atau mau pindahan ?”, sahut Putri sambil tertawa.
“Aku punya kado ulang tahun
untukmu”, Aditya tersenyum.
“Mana ?”, wajah Putri nampak
kegirangan.
“Ulang tahunmu kan besok. Jadi besok
baru bisa aku berikan. Ngomong – ngomong Om Bayu kemana ya ?”.
“Yaaahhh. Ku kira sekarang”, Putri
nampak cemberut. “Tapi ngga apa – apa deh. Tunggu sebentar. Aku telpon Om Bayu
dulu”.
“Ngga perlu ditelpon. Om sudah
disini”, tiba – tiba Om Bayu muncul dari arah belakang parkiran.
Spontan saja Aditya dan Putri kaget
setengah mati.
“Om ngintip ya dari tadi”, selidik
Putri.
“Ah, tidak kok. Cuma menanti sedikit
adegan romantis pertemuan sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu. Tapi
adegannya tidak kunjung ada”, Om Bayu tertawa terbahak – bahak.
“Kita bukan anak kecil lagi, Om”,
Putri tersenyum simpul.
“Ya, Om tahu. Kalian sudah sangat
dewasa”, Om Bayu menepuk pundak Aditya. “Hai Dit, tambah keren saja kamu”.
“Om bisa saja. Kabar baik, Om.
Ngomong – ngomong, pulang yuk. Ngga usah singgah – singgah lagi. Sudah kangen masakan mama”, Aditya menatap
wajah Putri. Putri mengangguk tanda menyetujui.
“Oke. Ayo masuk. Kita pulang
sekarang”, kata Om Bayu.
Mobil Om Bayu perlahan – lahan mulai
meninggalkan pelataran parkir bandara. Perjalanan untuk pulang ke kampung akan
memakan waktu selama lima jam. Putri yang sejak siang sudah di bandara terlihat
sangat mengantuk. Begitu mobil memasuki Kota Manado, Putri terlihat sudah
tertidur.
Aditya menoleh ke samping.
Ditatapnya raut wajah Putri yang terlihat lelah. Aditya kemudian mengambil
tasnya dan mengeluarkan jaketnya. Dirangkulnya Putri dan diselimutinya dengan
jaket.
“Dia wanita yang hebat. Tiap hari
dia menunggu kepulanganmu tanpa tergoda sedikitpun dengan banyaknya rayuan yang
datang dalam hari – harinya”, Om Bayu berkata pelan tanpa menoleh.
“Saya tahu, Om. Tapi saya belum bisa
membahagiakan dia sampai saat ini”, Aditya mengusap rambut Putri yang tertidur
nyenyak.
“Bahagia itu subjektif, Dit. Yang
penting tetaplah setia pada dia”.
“Pasti, Om”.
Setengah jam kemudian Aditya
terlihat ikut tertidur. Om Bayu mengemudi dengan hati – hati karena jalan Trans
Sulawesi tergolong jalan yang ramai kendaraan meskipun pada malam hari. Om Bayu
melirik kaca depannya. Dia melihat Aditya dan Putri sudah tertidur. Dalam
hatinya berkata “semoga Tuhan selalu melindungi hubungan kalian”.
*****
Jam sudah menunjuk pukul 23.00 WITA
ketika mobil Om Bayu mulai memasuki Desa Werdhi Agung. Aditya mulai terbangun.
Sedangkan Putri nampak masih tertidur nyenyak. Tak lama kemudian mobil perlahan
– lahan memasuki pekarangan rumah Putri.
“Sayang, bangun. Kita sudah sampai”,
Aditya sedikit mengguncang bahu Putri.
Putri membuka matanya. “Sudah sampai
di rumah ya ?”, Putri mengusap matanya.
“Iya. Ayo turun”, Aditya menuntun
Putri turun dari mobil.
Diteras rumah Putri sudah berdiri
Mama dan Papanya Putri yang sengaja belum tidur untuk menunggu kepulangan Aditya.
Aditya sudah seperti anak mereka sendiri.
“Kalian berdua cepat masuk. Sudah
dingin sekali udaranya. Biar Papa yang bayar ongkosnya”, kata Papa Putri.
“Tapi, Pa. Adit ada uang kok”,
Aditya mencoba menolak secara halus.
“Sudah, tak apa, Dit. Ayo masuk”,
kata Mama Putri.
Aditya mengangguk dan menggandeng
tangan Putri masuk kedalam rumah. Mama Putri segera membuatkan minuman panas.
“Kamu mau tidur disini, Dit ?” tanya
Putri.
“Aku sudah SMS Papa minta jemput.
Ngga enak kalau menginap. Nanti besok kita ketemu ditempat biasa”, Aditya
mengusap rambut Putri.
“Tapi mana hadiah ulang tahunku ?”
“Oh ya. Aku hampir lupa”, Aditya
melihat jam tangannya. 5 menit lagi menunjuk pukul 00.00 WITA.
Aditya mengeluarkan kado berbungkus
plastik pink.
“Apa lagi yang kamu hadiahkan untuk
Putri, Dit ? Sudah besar begitu jangan terlalu dimanja dengan hadiah”, Mama
Putri meletakkan minuman panas dimeja tamu. “Ayo diminum dulu, Dit. Ini cokelat
kesukaanmu”.
“Mama apa’an sih ?” protes Putri.
Aditya tersenyum – senyum menyaksikannya.
Tiiittt, tiiittt, tiiiittt.
Jam dipergelangan tangan Aditya menunjuk
tepat pukul 00.00 WITA.
Aditya memeluk Putri. “Happy
Birthday, Sayang. Panjang umur, sehat selalu, tambah dewasa, ngga rewel lagi,
banyak rejeki, tambah sukses pekerjaannya.”
Putri tersenyum. “Terima kasih ya,
Dit.”
Papa dan Mama Putri pun bergantian
memeluk Putri untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Tak lama kemudian Papa
Aditya datang menjemput Aditya.
*****
Pukul 08.00 WITA.
Alarm HP Putri berkali – kali berbunyi.
Tapi Putri sepertinya enggan untuk bangun dari tempat tidurnya. Dia masih
merasa penat setelah perjalanan panjang kemarin. Semenit kemudian suara alarm
HPnya berubah menjadi nada panggilan. Dengan malas Putri menjawab panggilannya.
“Selamat pagi, Sayang. Sudah bangun
belum ?”, suara Aditya diseberang sana.
“Masih malas bangun, Dit. Masih cape”,
jawab Putri agak malas – malasan.
“Hari ini kan ulang tahunmu. Aku mau
ngajak kamu makan ketempat biasa. Mau ? Kalau mau, aku jemput jam 9”, kata
Adit.
“Iya deh. Aku mandi dulu ya kalau
begitu”.
Putri segera mandi dan bersiap –
siap. Sudah dua tahun lamanya dirinya tak makan bersama dengan Aditya. Ini momen
yang paling disenanginya jika Aditya pulang.
Tepat pukul 09.00 Aditya menjemput
Putri. Setelah pamitan, mereka menuju ke tempat makan favorite mereka. Selesai makan,
mereka berdua berputar – putar mengunjungi kerabat dan kawan – kawan Aditya.
Seharian ini Putri merasa sangat
senang.
Sore beranjak turun. Mereka pun
pulang. Sesampainya di rumah Putri, mereka disambut oleh Mama Putri.
“Sudah puas jalan – jalannya ?”,
Mama Putri menggoda anaknya.
“Puas lah, Ma”, Putri menjawab
sambil tertawa.
“Aku mau memberikan hadiah yang aku
janjikan kemarin”, kata Aditya.
Putri mengerutkan keningnya. “Lho,
bukannya boneka kemarin itu hadiahnya ?”.
“Bukan”, Aditya tersenyum. “Ini hadiah
ulang tahun untukmu”, Aditya menyodorkan selembar kertas putih.
Putri membaca tulisan yang ada
dikertas itu. Serasa tak percaya, dia mengulanginya kembali membaca dari atas
sampai selesai. “Ini serius ?”, tanya Putri dengan mata berkaca – kaca.
Aditya mengangguk perlahan.
“Setahun aku berusaha agar bisa
pindah. Agar kita tidak jauh lagi. Aku tahu bagaimana perasaanmu disaat aku
jauh dari kamu. Makanya kemarin kamu lihat aku pulang bawa koper. Barang –
barang lain menyusul dikirim. Mulai minggu depan aku sudah dinas disini. Kamu
senang dengan hadiah ini ?”.
Putri tak bisa menahan tangisnya. Dipeluknya
Aditya erat – erat. “Terima kasih, Dit. Ini hadiah ulang tahun yang paling
berharga dan tak akan pernah ku lupakan”.
Mama Putri yang menyaksikannya pun
terharu. Dalam hatinya berdoa agar cinta dua sejoli ini diberkati Tuhan hingga
saatnya nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar